Part One : Prolog

0

Matanya lalu berahli pada pria yang sedang tertidur diatas ranjang itu. Sudah 5 hari berlalu dan tidak ada sedikitpun tanda bahwa pria itu akan segera terbangun kembali.

Spread the love

Sebuah bangunan besar berdiri dengan kokohnya tepat dipusat kota. Hiruk pikuk perkotaan mulai terdengar sampai kelantai atas. Suara klakson yang berkepanjangan dan juga suara perbincangan orang – orang yang berada tidak jauh dari ruangan itu mulai membuatnya risih. Cahaya matahari mulai ikut memasuki sela – sela gorden kamarnya, memaksa dia untuk membuka matanya yang masih terasa berat.

Diperhatikannya gantungan infuse yang menetes dengan pelan bertemankan melodi lembut yang keluar dari monitor pasien sejak hari pertama mereka berada disini. Matanya lalu berahli pada pria yang sedang tertidur diatas ranjang itu. Sudah 5 hari berlalu dan tidak ada sedikitpun tanda bahwa pria itu akan segera terbangun kembali.

Ruangan kecil dirumah sakit itu kini terasa seperti rumah barunya. Dia beranjak dari sofa itu dan membuka gorden kecil itu agar cahaya matahari dapat masuk dengan sempurna. Dia membersihkan wajah dan mengosok giginya segera agar rasa lelah tidak kembali menerpanya. Tangan yang awalnya begitu semangat membersihkan sela – sela mulutnya terhenti sesaat ketika dia melihat pantulan dirinya dikaca tersebut. Wajahnya terlihat begitu lusuh dan pucat. Rambutnya tidak tertata rapi dan matanya kini terlihat seperti orang yang habis dipukuli.

“Selamat pagi, permisi..”

Suara seorang perawat membuatnya sedikit terkejut dan segera membersihkan sisa odol yang berada disekeliling mulutnya. Sikat gigi itu lalu diletakan sembarangan dan dia segera keluar dengan cepat dari kamar mandi itu.

“Bagaimana kondisinya hari ini ? Apakah ada perubahan ?”

Dia bertanya dengan antusias kepada perawat yang sedang memperhatikan monitor pasien yang berada disamping pria tersebut sambil mencatat beberapa hal disalinan kertas yang selalu mereka bawa setiap kali datang mengunjungi.

“Dari pantauan monitor, belum ada perubahan pada kondisi bapak Will. Kondisinya masih stabil seperti sebelumnya.”

“Stabil ? Kalau stabil, kenapa dia tidak juga bangun dari tidurnya ?!”

Suaranya sedikit meninggi pagi itu. Dia sudah tidak mampu bersabar lagi. Ingin sekali dia melampiaskan setiap amarah yang berada didalam dirinya, namun dia sadar bahwa perawat itu pasti sudah melakukan yang terbaik bagi suaminya.

“Maaf ibu Will, saya hanya bisa memberikan informasi kondisi suami ibu. Selebihnya akan dijelaskan dokter saat kunjungan. Saya permisi bu.”

Seluruh tubuhnya terasa begitu lelah, dia berjalan mendekati ranjang dimana suaminya terbaring dengan tenang segera setelah perawat tersebut berlalu. Dia duduk disamping ranjang itu dan berusaha keras menahan diri agar tidak menangis lagi. Dia berusaha untuk menjadi seseorang yang tetap kuat meski pertahanannya mulai goyah.

Diusapnya wajah pria itu dengan lembut. Sudah begitu lama dia tidak pernah benar – benar memperhatikan wajah suaminya. Dia bahkan tidak pernah memperdulikan apapun yang dialami suaminya sampai 5 hari terakhir ini. Dia tidak pernah bertanya tentang kesehatannya, pekerjaannya ataupun bertukar cerita tentang bagaimana mereka melewati hari – hari mereka.

Mereka tinggal dan tidur dibawah atap yang sama, tetapi lelaki itu telah menjadi seseorang yang asing bagi dirinya. Kini dia mengusap wajah pria itu seperti pertama kali dia jatuh cinta kepadanya, seseorang yang selama ini dia anggap begitu asing adalah suaminya yang tidak pernah banyak menuntut perhatiannya, dan mungkin sebentar lagi akan benar – benar pergi dari kehidupannya.

Pria itu bukanlah orang yang jahat. Dia adalah orang yang telah mengorbankan begitu banyak hal untuk kebahagiaanya. Dan kini dia tidak terbangun. Tidak ada penjelasan yang bisa mengambarkan apa yang sebenarnya dialami oleh pria tersebut. Dia hanya tertidur dengan begitu tenangnya setelah menjalani beberapa operasi dirumah sakit itu. Kecelakaan itu telah membuatnya kehilangan banyak darah karena sesuatu telah membentur kepalanya dengan keras.

Kedua kaki pria itu juga telah dinyatakan lumpuh, dan beberapa dokter juga telah menyerah dalam 5 hari terakhir itu. Setelah operasi selesai, sebagian dokter berkata bahwa pria itu tidak akan pernah terbangun kembali meskipun monitor yang berada didepannya menunjukan statistis yang normal.

Brain dead, begitulah sebutannya. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Beberapa dokter juga pernah mendatanginya untuk meminta izin agar suaminya itu mendonorkan organ tubuh yang dibutuhkan oleh pasien lain. Ya, perkataan mereka semua membuat dia begitu marah. Seolah suaminya sudah tidak memiliki harapan apapun untuk kembali tersadar. Baru 5 hari ! mereka semua begitu menyiksa batinnya !

Dia mengenggam tangan suaminya dengan kuat. Pipinya kini mulai basah oleh airmata. Dia sudah tidak kuat lagi menahan setiap emosi yang berada didalam dirinya. Bukan dia tidak mencintai pria tersebut. Setiap kali dia melihat wajah pria itu, dia merasa tidak berdaya dan berdosa. Meskipun pria tersebut selalu menyakinkannya bahwa dia adalah wanita yang dicari selama ini, dia tidak sanggup melihat pria itu kehilangan banyak hal didalam hidupnya hanya untuk wanita seperti dirinya.

Dia memutuskan untuk membuat pria itu berhenti mencintainya dan bercerai dengannya, namun tidak berhasil. Caranya telah salah sejak awal. Kini melihat pria tersebut terbaring dirumah sakit membuatnya sadar bahwa cinta pria itu adalah anugrah terindah didalam hidupnya.

Seandainya dia membuka dirinya untuk benar – benar percaya akan apa yang dikatakan pria itu, seandainya mereka tidak terlibat perkelahian pagi itu, mungkin kecelakaan tersebut tidak akan terjadi. Ya, mungkin suaminya tidak akan berada dirumah sakit saat ini.


The first time I saw her,
I don’t know what happen to my self,
I think I meet a angel,
Everything she do,
Everything she say,
All is beautiful.

(November 17, 1987)


(to be continue….)

Spread the love

Leave a Reply

Verified by MonsterInsights