St. Michael di Tanjung Sakti, Gereja Katolik Pertama di Sumsel

250

Gereja Katolik pertama di Sumsel yang didirikan tahun 1898.

Spread the love

Jujur aku masih gak percaya kalau aku berhasil sampai kegereja ini. Benar – benar aku gak ada planning kesini, dan lebih jujurnya, aku malah gak tahu kalau di Sumatera Selatan (Sumsel), masih ada gereja tua sekaligus gereja Katolik pertama yang dibangun pada zaman kolonial Belanda tahun 1898.

Aku sedang melakukan perjalanan roadtrip sampai ke Via Crucis di Palembang. Ketika mengunjungi tempat tersebut untuk ke-2 kalinya, akhirnya aku ngobrol sama petugas disana. Aku bilang kalau aku sedang senang – senangnya menulis, dan dari beliau aku dikasih tahu kalau ingin menulis tentang sejarah gereja, maka gereja ini adalah titik awalnya.

Kalau dipikir, gereja ini jauh dari Palembang. Terus juga aku gak tahu kondisi jalan dan lain sebagainya. Sempat ragu, apakah bakalan worth it kalau aku kesana ?
But, kepikiran beberapa saat, akhirnya aku mutusin buat kesini.

Awalnya aku mau ikutan Misa digereja ini.
Jadi dari Palembang aku menuju Lahat dan membutuhkan waktu sekitaran 7-8 jam.
Aku istirahat di Lahat sehari, baru memutuskan buat ngelanjutin perjalanan ke Tanjung Sakti.

Gereja ini terletak didesa Pajar Bulan. Jarak tempuhnya dari Lahat itu membutuhkan waktu 2-3 jam.
Pertama kali kesana, aku mikirnya sih bakalan mudah dapat penginapan, sehingga aku memulai perjalanan kesana siang hari, dan baru ketemu gereja ini hampir sore dengan kondisi hujan.

St. Michael

Aku hampir nangis pas sampai kesini dan gerbang gereja tutup.
Kondisi sudah basah, terus aku juga belum tahu malam mau menginap kemana.
Saat itu aku pengen manjat dan masuk, tapi..
Untung ada pintu samping yang terbuka, dan akhirnya aku masuk kedalam.

Gereja ini adalah gereja Katolik pertama di Sumsel sekaligus gereja yang masih difungsikan untuk Misa.
Karena umatnya tidak banyak, Misa hanya diadakan 1x dihari Minggu dan dijam 7 pagi.
Ingin bangat ngikutin Misa disini, tapi karena gak ada penginapan dan harus kembali ke Lahat, akhirnya aku cuma bisa foto dan bercerita dengan Romo yang berada disana.

Gaya bangunan tidak mengalami perubahan yang banyak.

Aku gak expect sama sekali kalau di Tanjung Sakti itu tidak ada penginapan. Terus dengan kondisi cuaca yang tidak mendukung, aku gak bisa pergi ke Makam Romo pertama disini. Pengen bangat pergi, tapi mengingat jaraknya yang jauh dan tempat istirahat yang masih gak jelas, akhirnya aku harus puas sampai titik ini.

Untuk atap gereja ini, semua masih atap sejak pertama kali gereja ini didirikan. Hanya ada sedikit yang diganti.
Dulu gereja ini sempat diberhentikan saat zaman penjajahan Jepang dan dijadikan sebagai gudang. Untungnya gereja ini berhasil kembali difungsikan sebagai gereja ya.

Umatnya sendiri hanya sekitaran 200-300 orang saja. Untuk Romonya sendiri, harus mengadakan Misa 1x disini dan setiap jam 5 sore Romo tersebut akan berpindah tugas kesalah satu gereja di Pagar Alam.
Mengingat kondisi perjalanan yang kurang bagus, salut sama Romo yang mengabdi disini.

Bangunan untuk istirahat masih sama sejak zaman Belanda
Tidak ada perubahan bangunan

Disini kondisinya sejuk bangat. Ditambah jenis bangunan lama seperti ini, rasanya gak pengen balik. Aku sempat ditawari buat bermalam disini dan tinggal ditempat para suster. Namun karena segan dan alasan lainnya, aku tidak menginap dan langsung kembali ke Lahat.
Perjalanan yang lumayan menguras tenaga, tapi menurutku worth it bangat, meskipun gak bisa ikutan Misa disini.

Yesus berdoa ditaman Getsemani

Disini tidak ada gua Maria, tapi mereka memiliki taman kecil.
Salah satu hal menarik adalah patung dimana Yesus berdoa ditaman Getsemani.
Kondisi tamannya bersih dan terawat, dan juga memiliki beberapa patung lainnya yang ditambahkan dengan ayat suci dari Alkitab.

Taman Mini Gereja

Walaupun terasa lelah dan sedikit kepelosokan, aku puas sama pencapaianku bisa kesini.
Walaupun tidak sempat ikut Misa dan ngobrol lebih banyak sama Romo disini, serius aku bangga bisa kesini dan menjelajahi salah satu peninggalan tertua di Sumsel.

Moga kedepan bisa explore ketempat – tempat spiritual lainnya dan berbagi dengan kalian disini.
Perjalanan spiritual itu memberikan kesan tersendiri buat aku. Walau kadang sebagian orang bilang aku kayak kurang kerjaan or ini gak worth, bagiku sih ini terasa luar biasa.

Dan yang paling utama, perlindungan Tuhan sepanjang perjalananku itu terasa bangat.
Jadi keingat kata petugas di Via Crucis, ketika dia nanya sama aku,
“datang sama siapa ?”
“Sendiri….”
“Yakin sendiri ??”
“ada Tuhan ..” (aku ragu pas jawab gini)
“Nah, BENAR”

Jadi perjalananku berasa terberkati bangat. Ditambah punya teman yang support dan warga yang menurutku ramah. Capeknya hilang.
Btw, kalau mau kesini pastikan BBM penuh karena semakin kepelosok, semakin sulit dapat BBM.
Pastikan juga kondisi perut terisi ya.

Versi video bisa dilihat di Youtube / Tiktok ataupun IG’ku.
Yang sudah pernah kesini, yuk kasih pendapat kalian.

Spread the love

250 thoughts on “St. Michael di Tanjung Sakti, Gereja Katolik Pertama di Sumsel

  1. На сайте https://healthbeautyblog.ru вы найдете самую полезную, актуальную информацию на разную тему. К примеру, вы узнаете о признаках, указывающих на то, что муж изменяет, как правильно хранить картошку, как устранить засор в ванной, о стадии отношении, архитектуре бровей и многом другом, что поможет получить содержательный ответ на поставленный вопрос. Вся информация подается в максимально простой, понятной форме. Есть и материалы на тему красоты, создания привлекательного макияжа, окрашивания бровей.

Leave a Reply

Verified by MonsterInsights