Chapter Seven : The True [Part 03]

1

Orang yang begitu sayang padaku hanyalah pembantu palsu yang mengambil peran sebagai seorang ibu !

Spread the love

Dia melihat sekilas dan akhirnya menyandarkan kepalanya dibahuku, tidak bertanya lebih jauh lagi. Dan mobil ini melaju dengan cepat, membawa kami kerumah sakit tempat dimana Rio mempercayakan kondisi kesehatannya.

Tidak dibutuhkan waktu lama kami sampai dirumah sakit, dengan cepat kami membantu Rio pindah ke kursi roda dan Rio dibawa masuk keruang pemeriksaan darurat, aku hanya menunggu diluar dan berharap semuanya akan baik – baik saja.

Aku duduk tidak jauh dari pria yang membawa kami kesini. rambutnya hitam ikal dan kulitnya sedikit sawo matang. Tinggi badannya hampir seimbang dengan Rio, dan jika kutebak dari wajahnya, dia berada diumur 25th keatas. Dia mengenakan jeans dan kaos oblong didalam balutan jaketnya. Segera kuahlikan pandanganku ketika dia melihat kearahku, kucuri – curi perhatian kedalam ruang emergency tempat Rio berada agar dia tidak curiga padaku.

“Hai.” Sapa seorang laki – laki dari samping dan aku sontak terkejut. Dia sudah berada disampingku. Ada perasaan malu seketika karena mungkin dia sadar aku mencuri – curi pandang padanya tadi.

“Hai..” jawabku pelan.

“Kamu pasti Mika ya ? Kenalkan namaku Paul.” Katanya lembut sambil mengulurkan tangannya untuk mengajakku berkenalan.

“Hai.. iya saya Mika.” aku menjabat tangannya dan segera menarik kembali tanganku. Aku tidak terbiasa berkenalan dengan laki – laki, sehingga tanpa kusadari aku hanya menjawab pertanyaan mereka dengan sikap dinginku.

“Kamu sama persis dengan yang Rio ceritakan selama ini.” katanya sambil tersenyum lalu melepaskan jaketnya dan memberikan padaku.

“Tidak usah. Aku tidak apa – apa koq.” Aku berusaha menolak dan mengembalikan jaketnya, namun dia memegang tanganku dan berkata bahwa pakaianku sangatlah mencolok, setidaknya jaket dia ini bisa membantuku kelihatan lebih baik sedikit. Kuperhatikan dress hitamku ini, dan sadar bahwa ada banyak noda (noda darah) yang sudah mongering, kelihatan seperti debu yang mengeras. Untung dressku berwarna hitam. Akhirnya aku menyelimuti diriku dengan jaketnya dan melihatnya duduk tidak jauh dariku.

“Rio cerita apa saja sama kamu ?” aku mulai memberanikan diriku bertanya. Entah kenapa jika segala sesuatu berhubungan dengan Rio, aku menjadi lebih berani dan penasaran.

Dia menatapku heran dan sebelum dia sempat menjawab, Seorang suster keluar dari ruang pemeriksaan, dan mempersilakan kami untuk masuk kedalam agar bisa bertemu dengan dokter. Aku bangkit berdiri dan segera masuk kedalam, Paul menyusul dibelakangku.

Rio masih terbaring disana, matanya lemah memandangku. Dokter itu melihat kearah kami begitu aku masuk.

“Keluarga pasien yang mana ?” tanya dokter.

Betapa kagetnya aku saat Paul mengatakan kepada dokter bahwa dia adalah keluarga Rio, lebih tepatnya kakak Rio.

Dokter melihat sebentar pada Rio, dan Rio menganggukan kepalanya pada Dokter. Benar Paul adalah kakaknya. Dokter lalu memberikan hasil diagnose pada Paul, dan untungnya aku diperbolehkan Paul mengetahui juga keadaan kaki Rio.

Betapa leganya kami saat dokter mulai menerangkan hasil diagnose kaki Rio. Disana tidak ada patah tulang yang serius, hanya sedikit pembengkakan disana. Rio dianjurkan untuk beristirahat malam ini dirumah sakit, dan dalam 2 hari kedepan sudah diperbolehkan pulang kerumahnya. Setelah penjelasan yang diberikan dokter cukup jelas, dokter pamit dan Paul menyusul dokter tersebut pamit untuk menyelesaikan proses administrasi dan kembali sebentar kerumah untuk mengambil baju Rio.

Aku duduk disamping tempat tidur Rio dan mencium keningnya. Kupandangi dia dan dia mengenggam tanganku, tidak ingin aku meninggalkannya malam ini. Aku membelai lembut kepalanya dan tidur disampingnya. Rio tidak banyak bicara dan berkat bantuan obat yang diberikan, Rio tertidur dengan cepat. Perlahan kulepaskan genggaman tangannya, aku meminta baju ganti pada suster jaga dilantai ini dan pergi mandi.

Sisa – sisa darah mengalir turun seketika saat air membasahi sekujur tubuhku. Aku membilas tubuhku berkali – kali dan setiap darah yang mengalir turun selalu membawaku kembali pada kematian Rose dan hilangnya Josh. Kepergian Adel dan Evan juga menyisakan misteri bagiku. apakah benar Josh yang melakukan itu semua ? dan apa alasannya ? kemana Beka pergi saat ini ? aku akan mengunjungi café dimana Beka bekerja untuk memastikan keadaannya besok.

Kuselesaikan mandiku dan melirik jam didinding, sudah hampir jam 4 pagi. Pasti mama cemas karena aku tidak pulang sejak perkelahian terakhir kami.  Apa yang sedang dilakukan mama saat ini. Aku memutuskan untuk pulang jika Paul sudah sampai, kami akan bergantian menjaga. Aku berjalan keluar kamar pasien dan duduk dikursi yang tersedia disana.

Sungguh berat jika aku membayangkan kembali acara tersebut. Kematian Adel dan Evan terus terbayang – bayang dikepalaku. Dan Rose, darahnya masih serasa melekat ditanganku. Apa yang terjadi padaku !

Sebuah minuman hangat tertempel dipipiku. Aku terkejut dan melihat Paul sudah berada disampingku. Dia tersenyum dan menyodorkan kopi hangat padaku. Seraya mengucapkan terimakasih dan meraih kopi tersebut dari tangannya, kuperhatikan dia baik – baik, dia tidak mirip sama sekali dengan Rio, dan dengan tas sandang besarnya yang mengantung dibahu, dia pasti membawa banyak baju Rio didalamnya.

“Itu baju Rio ?” tanyaku dengan jari menunjuk pada tas sandang tersebut.

“Oh, iya sebagian barang dia. Dan sebagian adalah barangku.” Dia memberikan isyarat padaku untuk menunggunya disini, lalu dia masuk kedalam kamar Rio.

Aku duduk sambil melihat suster yang sibuk mengecek setiap pasiennya. Kuhirup kopi hangat yang ada ditanganku ini dan sadar bahwa Rio pasti banyak bercerita tentangku padanya, sehingga dia tahu bahwa yang aku sukai adalah kopi.

Paul keluar dari kamar dan duduk disampingku.

“Bagaimana, suka sama kopinya ?” tanya Paul lembut.

“Iya enak. Makasih ya.” Aku menjawab sambil menikmati kopi ditanganku. Paul tidak banyak bertanya, kami hanya duduk bersampingan namun tidak memiliki topic apapun untuk dibahas.

Sebuah jam dinding terletak tidak jauh dari tempat dudukku. Kupicingkan mataku untuk melihat jarum jam yang sudah menunjukan angka 5 lebih, Aku akan meminta Paul menjaga Rio karena aku akan pulang sebentar untuk melihat keadaan rumah. Kenyataan yang dituliskan Josh didalam kertas tersebut masih berusaha kucerna. Orang yang begitu sayang padaku hanyalah pembantu palsu yang mengambil peran sebagai seorang ibu !

“Paul, aku balik dulu ya” Aku memecahkan keheningan diantara kami. Paul sedikit terkejut mendengar hal tersebut dan kembali pada expresi normalnya.

“Kamu mau kemana Mika ? ini masih subuh lho. Kamu mau pakai apa pulangnya ?” tanya Paul setengah terkejut.

“Ada bus umum kok, dan aku sudah biasa pulang sendirian dengan bus. Jadi tidak perlu cemas sama aku ya.” Kataku menyudahi percakapan kami dan aku masuk kembali kedalam kamar Rio.

Aku tidak memberitahu alasanku pulang duluan karena memang sudah sifat dasarku tidak pernah terbuka kepada orang asing.

(to be continue…)

Spread the love

1 thought on “Chapter Seven : The True [Part 03]

  1. Whatrs up this iis kind of off ooff topic but I waas wonderng iff bpogs uuse WYSIWYG editors oor iif you have to manuallyy colde wityh HTML.
    I’m sarting a blog son bbut hsve no coding ezpertise
    so I wantsd to geet guidance ftom someone with experience.
    Anyy hlp would bbe gteatly appreciated!

Leave a Reply

Verified by MonsterInsights